Total Pageviews

musim liburan hampir tiba....siap lebih awal

Thursday, December 18, 2014

kabut asap melanda kota palemabang

pertengahan bulan september kemarin kebetulan ada tugas di kota palembang. setelah dijemput di bandara kota palembang, saya dianter ke hotel azza utnuk menginap selama acara di palembang. hotel ini berada tepat disamping mall terbesar di kota palembang, yaitu mall palembang icon, mall baru di kota palembang.
pada saat itu musim hujan belum tuurun, sehingga sebagian wilayah sumatera mengalami gejala alama beruba kabut asap. kabut asap ini berasal dari pembakaran hutan dan batu bara yang ada di dalam tanah.
















Tuesday, November 4, 2014

disclaimer

  1. konten atau isi dalam blog ini sebagian besar adalah catatan pribadi penulis hasil pengalaman dalam perjalanan melihat tempat-tempat yang menarik di seluruh indonesia.
  2. posting di blogging tropisliving.blogspot.co.id ini tidak ditujukan sebagai suatu nasihat profesional, hanya sebagai media bergai dan berisi tips  berdasarkan pengalaman penulis dan sumber lain.
  3. pembaca dapat meminta nasihat dan informasi resmi secara profesional dari pehaklain yang lebih berkompeten sesuai dengan kebutuhan pembaca.
  4. admin tropisliving.blogspot.co.id tidak bertanggungjawab atas kerugian yang dialami pemabca dari blog ini.
  5. kutip atau copas dari posting di blog tropisliving.blogspot.co.id ini wajib mencantumkan link sumber atau tropisliving.blogspot.co.id

Sunday, November 2, 2014

my contak

myphone number 08989775344
my email : [email protected]

Saturday, November 1, 2014

about us

Tentang:
tropisliving.blogspot.co.id adalah Situs Blogging sederhana yang berisikan tentang catatan perjalanan dan ulasan dari tempat-tempat menarik yang penulis kunjungi & serta berbagai kumpulan artikel menarik lainnya yang mudah-mudahan sebagai media berbagi pengalaman memberikan solusi dan bermanfaat bagi kita semua.

tropisliving.blogspot.co.id menjadi salah satu media informasi, solusi, inspirasi bagi pembaca. Selalu semangat dalam menceritakan pengalaman menarik dari pesona eksotis indonesia.

Kutipan: saya suka jalan-jalan ketempat-tempat yang menarik, unik dan spesial. menikmati perjalanan dengan cara saya

Profil:
Penulis/Admin :
Email : 
Facebook :
Twitter :
BBM :


.

Tuesday, October 28, 2014

awas....bubur ayam jalan merdeka bandung

bubur ayam spesial jalan merdeka bandung
jalan-jalan di kota bandung memang selalu menjadi acara yang menyenangkan, baik siang maupun malam hari. banyak tempat yang seru dan asik untuk di datangi. mulai dari taman-taman kota yang tersebar hampir diseluruh sudut-sudut kota bandung, apalagi sekarang ini walikota bandung lagi semangat untuk bikin kota bandung cantik dengan taman-taman kota yang sejuk dan cantik.
selain tempat belanja pakaian, dimana bandung sudah menjadi ikon belanja untuk para turis lokal , juga banyak tempat kuliner bagi yang suka nyicipi makanan-makanan unik dan khas di satu kota. kali ini, saya dengan teman-teman keluyuran malam-malam di kota bandung. tujuan pertama kami adalah nasi inul, tempatnya di dekat sebuah hotel berbintang di kawasan atas kota bandung, namun sayang, ketika kami sampai di sana, warung sdudah tutup. kami langsung cari alternatif lain, tempat makan yang masih buka di malam hari, tepatnya di tengah malam......
kami menuju jalan merdeka bandung, dekat dengan gedeung merdeka, kami sampai di warung kaki lima pinggir jalan, disitu ada bubur ayam. lumayan rame, banyak pembeli yang berjajar parkir dipinggir jalan. kami memilih bubur ayam "PR special tea". dan..sesuai dengan namanya, memang bubur ayam ini spesial banget, rasanya enak, hurih dan nggak bikin kenyang..hahaha....
tempatnya terang oleh almpu toko, apotik dan lampu penrangan jalan, seru buat nongkrong. selesai makan, kami jalan ke gedung merdeka, dan ternayat di situ sudah banyak orang yang ngumpul-ngumpul dan foto-foto.
lebih ke samping gedeung merdeka, ternyata disitu juga banyak penjula makanan, lebih rame. ternyata jalan merdeka rame di malam hari, dan nggak ada matinya....seru...


Monday, October 13, 2014

PO. Bejeu, bus malam paling nyantai se indonesia

jumat sore setiap minggu saya berangkat dari jakarta ke semarang. kemudian balik lagi dari semarang ke jakarta setiap hari minggu sore.  rutinitas seperti ini banyak orang yang kerja di jakarta setiap hari jumat sore pulang ke daerah semarang dan sekitarnya, istilahnya PJKA ya pulang jumat kembali ahad....
orang-orang yang biasa disebut pelaju ini dapat dilihat di stasiun senen, biasanya naik kereta ekonomi brantas jam 16.00. dengan tiket subsidi seharga 55 ribu saja. demikin pula pada hari minggu malam, stasiun poncol penuh dengan arus balik pelaju menujujakarta.
namun untuk mendapatkan tiket murah ini tidaklah mudah, harus 3 bulan sebelum keberangkatan sudah membeli sesuai dengan tanggal keberangkatan. biasanya pelaju ini, termasuk saya sudah membeli seluruh tanggal di hari jumat dan minggu untuk 3 bulan ke depan. kalau kebetulan ada acara rapat atau keperluan mendadak, ya di hangusin atau dibatalin, dengan denda potongan 25%.
pengalaman saya jumat kemarin, karena ada keperluan maka tidak bisa pulang dengan kereta. maka terpaksa pulang dengan naik bus. saya naik bus dari terminal rawamangun, karena busnya berangkat lebih awal dibanding dengan terminal yang lain. dengan harapan tiba di semarang lebih awal juga. biasnaya naik bus shantika, tiba di semarang sekitar jam 6 pagi. karena kebetulan hari itu tiket bus shantika habis, saya belitiket bus bejeu.
berangkat dari terminal rawamangun jam 7 malam. bus lumayan nyaman, dengan layar televisi 29 inch 2 buah. dilengkapi dengan wifi, namun tidak diberi paswordnya...hehehe
selain itu juga di dalam bus tersedia kopi, teh, gula dan air panas, jadi setiap saat penumpang bisa membuat minuman panas, mau teh tau kopi sesuai selera.
sampai di rumah makan, sekitar pukul 00.30 atau tengah malam, lumayan terlambat untuk bus malam jakarta sampai dipantura. setelah isitirahat sekitar 1 jam, bus berangkat. macet di daerah brebes lumayan lama. dari pada pusing-pusing mikir jalan yang macet, mending tidur lagi....
terasa bus bus berhenti dan terasa agak sumuk, ternyata bus berhenti dipinggir jalan di daerah pemalang, saya lihat jam pukul 05.15 wib. ac rusak, sekitar 1 jam di perbaiki aca bisa nyala dan bus jalan lagi, meski beberapa kali mati, namnun akhirnya bus tetap jalan.
bus berjalan santai, beberapa kali di salip oleh bus lain, antara lain bus lorena, laju prima, raya dll, bahkan beberapa truck juga menyalip..duh....
akhirnya....sampai juga di semarang pukul 11.30..hitung aja sob, dari pemalang sampai semarang 5 jam, padahal jalan nggak macet. lancar.....berarti memang betul kata temen saya yang pernah ngalami naik bus bejeu juga, kalau bejeu ini bus nyantai, dan biasa sampai di semarng siang hari...dan itu ternyata terbukti saya mengalaminya....
buat temen2 yang biasa dari jakarta ke semarang dan sekitarnya, kalu mau nyantai dengan fasilitas lumayan lengkap, silahkan naik bus bejeu, namun kalau pengen cepat2 sampai rumah....mending pilih yang lain, bisa shantika atau hanyanto...
oh ya bro..kalau mau naik kereta dari senen kebetulan bawa sepeda motor, jangan parkir si dalam stasiun, karena tarif parkir di stasiun senen dihitung perjam. jadi kalau sehari semalam tarif parkir 24 ribu. agar tidak mahal temen2 bisa nitip motor di masjid di seberang stasiun senen. lokasinya sebelah kiri jalan setelah belokan lampu merah yang menuju stasiun. tarif nitip motor sehari semalem 5 ribu. murahkan....

Monday, October 6, 2014

misteri gerbong ke 9 kereta api semarang - jakarta

buat yang biasa naik kereta api dari semarang ke jakarta kadang menemui kejadian yang agak aneh. kadang melihat ada orang yang keliatan sibuk lalu lalang mancari tempat duduk. biasanya tempat duduk dengan gerbong nomer 9. meskipun sudah bertanya dengan orang-orang yang ada di gerbong, kadang nggak pernah dapat jawabn yang pasti. kebanyakan orang-orang menjawab gerbong terakhirnya aja gerbong nome 8 kok nyari gerbong nomer 9...
memenag bener..di cari sampai depan masinis juga nggak bakalan dapet itu gerbong nomer 9, meskipun di tiket memang tertera gerbong nomer 9 dan tempat duduknya. nah..rahasianya adalah bahwa gerbong nomer 9 itu yang di maksud adalah gerbong restorasi, atau gerbong tempat makan. jadi kalo sewaktu-waktu beli tiket dan disitu tertera gerbong nomer 9, maka nggak usah cari gerbong nomer 9, karena tidak bakal ketemu, langsung aja tanya sama satpam atau kondekturnya, dimana gerbong restorasi. biasanya gerbong restorasi itu adalah gerbong nomer 4 dari depan....
bingung kan...hehehe...dan gerbong restorasi ini tidak ada nomernya atau namanya, jadi harus tanya2 juga....

Monday, August 25, 2014

hotel chara sebuah atmosfir pelabuhan di bandung

selama 7 hari tinggal di bandung mengikuti acara pelatihan yang dilaksanakan di hotel chara jalan gatot subroto 31 bandung. ketika sampai dijalan gatsu, hotel chara tampak menonjol diantara banyak bangunan di sekitarnya. bangunan tersebut tampak kokokh dengan nuansa baja yang tampak terpapar. garis-garis tegas dengan fasad yang nampak "garang". kesan ini tampil dari material bangunan yang tampak dari luar.
hotel chara bandung


Sunday, August 24, 2014

dusun wangun kelurahan pasirmulya jawa barat

hari minggu kemarin, setelah dua hari tinggal dibandung dengan serangkaian cara yang padat dari pagi sampai malam hari, sy dengan teman2 jalan2 ke daerah kabupaten bandung jawa barat, kami menuju daerah selatan bandung, sekitar jam 7 pagi dengan mobil. jalanan kota bandug menuju bandung selatan sudah mulai agak ramai. sekitar 1. 5 jam kami sudah keluar kota bandung. jalan mulai menanjak. jalanan aspal yang mulai menyempit, agak rusak, sehingga kami jalan tidak terlalu cepat.
dengan sekali salah jalan, akhirnya kami memasuki suatu kawasan yang masih terlihat baru. jalan beon cukup lebar, dengan drainase di sepanjang kanan kiri jalan, juga rumah-rumah panggung yang masih tampak baru selesai dibangun.
tidak banyak kami jumpai penduduk, hanya beberapa anak sekolah yang memakai seragam pramuka, pakaian oleh raga. mereka hilir mudik di jalan besar tersebut.
akhirnya kami sampai di sebuah bangunan yang dijadikan tempat pertemuan, yang rupanya itu adalah bangunan paud, yang disulap menjadi tempat pertemuan. kami diterima oleh ketua bkm desa pasirmulya.
dalam ruang pertemuan telah hadir pula bapak kepala desa pasirmulya, tim fasilitator, sedangkan ibu-ibu pkk tampak menyiapkan makanan kecil dan minuman di rumah depan tempat pertemuan.
setelah acara sambutan dll, saya berkeliling kawasan untuk melihat dari dekat permukiman yang tampak baru ini.

ibu oom, tinggal di desa wangon selama 8 bulan

bapak temi, suami ibu oom, berprofesi sebagai pandai besi

bengkel kerja bapak temi

pak lurah pasirmulya

pak tasman, kepala suka dan tokoh masyarakat dusun wangon desa pasirmulya



Monday, July 7, 2014

Soto Betawi at Jakarta

1. Soto Roxy H. Darwasa
This is a legendary Soto. Located at Roxy area since 1949. Here the filling of the soto is fried so the lung is cuite crispy. The other differences is there isn’t potato and tomato. The soup isn’t too heavy but not too light too, still suitable for breakfast.
This soto capacity is quite big and always crowded at lunch time. Open from 06.00 – 14.000 and closed on Sunday. The exact location is in Jl.Tidore No. 3, Roxy – Jakarta Pusat (behind Roxy Apotek if you coma from Jl. Biak). This soto also has branch at Ruko Bolsena Blok D-37, Gading Serpong-Tangerang.

2. Soto Betawi H. Husen
This popular Soto Betawi, especially in South Jakarta has strong seasoning soup and yellow red colour and a bit spicy. Although a bit difficult to find car parking but still there are many cars who come there. This soto open from 07.00 till sold out. Usually around 2-3 PM and closed every Friday. Located at Jl. Padang Panjang No 6C, Manggarai- Jakarta Selatan.
3. Soto & Sop Kaki Sapi Sumsum H. Agus
After reviewed deeper, it turns out that Soto Kaki Sapi H. Agus is suit in Soto Betawi category. It’s just the filling is difference from other soto like leg side and cow marrow which make it special.
The soup is quite light, blend perfectly with the beef leg and istentine. Don’t forger about the soft tender and melting fatty marrow. There is also fresh pickle to neutralize the fat. The marrow in Soto H. Agus is the one which has been taken out from the bone so you don’t have to suck it up.
This small street depot only can contain a few customers so you should be fast before this place is full of officer in the lunch time. Beside Soto, this place is also offer delicious sop kaki sapi. Open from 08.00 – 16.00. Located at Pasar Burung Barito area, Jakarta Selatan.

4. Soto Betawi H. Ma'ruf
This is also a legendary soto betawi, located at Taman Ismail Marzuki (TIM) area, Cikini. The deliciousness of this Soto Betawi can make the ‘top’ people in this country become its loyal customers. What’s more is the owner doesn’t use any additional taste in the Soto. Beside Soto Betawi, this place also offer Sate Kambing, Sate Sapi and Sate Ayam. You can also find Soto Betawi H. Ma’ruf in Blok M and Kebon Sirih area.

 5. Soto Betawi Afung
This soto betawi is located in Pecinan Glodok area, Gg. Gloria. This soto isn’t made by Betawi people so it has its own uniqueness. The soto use best quality beef and become perfect when blend with the soup which using broth from marrow.
That’s all 5 delicious Soto Betawi eating place in Jakarta. Eventhough it’s quite difficult to choose only five because there are still many more delicious soto betawi eating place in Jakarta.

teks from :  http://www.haphap.com/




Friday, July 4, 2014

pendaftaran mudik gratis lebaran 2014

Jakarta,01/7/2014 ) Untuk mengurangi kemacetan dan menurunkan angka kecelakaan, dalam masa Angkutan Lebaran (Angleb) 2014, Kementerian Perhubungan akan memberangkatkan 16.650 sepeda motor gratis ke berbagai daerah di Pulau Jawa dengan moda kapal, kereta api dan truk.


“Program ini  untuk mengurangi jumlah pemudik yang menggunakan kendaraan pribadinya, dan untuk mengurangi kepadatan lalu lintas selama musim Lebaran. Untuk tahun ini kami siapkan sarana angkutan dengan kapasitas 16.650 unit sepeda motor dan 33.000 orang,” jelas Menteri Perhubungan, EE Mangindaan saat membuka pendaftaran mudik  di Gedung Kementerian Perhubungan, Jakarta, Selasa.



 Mangindaan merinci   kapasitas sepeda motor dan penumpang tersebut, yaitu untuk angkutan jalan disediakan sebanyak 48 unit truk yang dapat mengangkut 2.400 unit sepeda motor, dan 96 unit bus yang dapat mengangkut 4.800 orang dengan tujuan Tasikmalaya, Cilacap, Purwokerto, Kebumen, Wonosobo, Magelang, Yogyakarta, Solo, dan Wonogiri.



Untuk angkutan laut disediakan dua  kapal Ro - Ro dengan kapasitas 2.000 unit sepeda motor dan 4.000 orang dengan kota tujuan Cirebon dan Tegal, selain itu disediakan pula 2 kapal laut dengan kapasitas angkut 6.000 unit sepeda motor dan 12.000 orang dengan tujuan Semarang dan Lampung.



Untuk angkutan kereta api  kapasitasnya sebanyak  6.300 unit sepeda motor dan 12.500 penumpang dengan tujuan Cirebon, Tegal, Semarang, Kutoarjo, Yogyakarta, dan Solo. Selain itu, penyelenggaraan mudik gratis juga dilakukan oleh 17 mitra kerja dengan jumlah kendaraan yang akan diberangkatkan mencapai 1.871 unit bus, 2.085 tiket pesawat, dan 2.110 tiket kereta api dengan total kapasitas angkut mencapai 122.028 orang.



“Saya memprediksi untuk Lebaran tahun ini akan ada peningkatan jumlah  kendaraan yang melintas pada beberapa ruas jalan sehingga berpotensi menimbulkan kemacetan. Kemacetan tersebut semakin diperparah dengan  tingginya penggunaan sepeda motor dan kendaraan pribadi.  Dengan adanya program ini  diharapkan dapat mengurangi   kemacetan dan menurunkan kecelakaan,” jelas  Mangindaan.

sumber :www.dephub.go.id

Wednesday, June 11, 2014

Yudistira


Yudistira
युधिष्ठिर

Prabu Yudistira, sebagai tokoh wayang Jawa
Tokoh dalam mitologi Hindu
Arti nama
Nama:
Yudistira
Nama lain:
Bharata; Ajatasatru;
Dharmaraja; Samiaji;
Puntadewa; Dharmawangsa;
Dharmaputra; Dharmasuta;
Dwijakangka, dan lain-lain
Aksara Dewanagari:
युधिष्ठिर
Ejaan Sanskerta:
Yudhiṣṭhira

Asal:
Senjata:
Tombak
Pasangan:
Dropadi, Dewika
 Yudhistira (Sanskerta: युधिष्ठिर; Yudhiṣṭhira) alias Dharmawangsa, adalah salah satu tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan seorang raja yang memerintah kerajaan Kuru, dengan pusat pemerintahan di Hastinapura. Ia merupakan yang tertua di antara lima Pandawa, atau para putera PanduDalam tradisi pewayangan, Yudistira diberi gelar "Prabu" dan memiliki julukan Puntadewa, sedangkan kerajaannya disebut dengan nama Kerajaan Amarta.
Sifat dan kesaktian
Para Raja


Hastinapura
Mahabharata

Pratisrawas
Pratipa
Santanu
Pandu
Yudistira
Satanika
Aswamedadata

Sifat-sifat Yudistira tercermin dalam nama-nama julukannya, sebagaimana telah disebutkan di atas. Sifatnya yang paling menonjol adalah adil, sabar, jujur, taat terhadap ajaran agama, penuh percaya diri, dan berani berspekulasi. Kesaktian Yudistira dalam Mahabharata terutama dalam hal memainkan senjata tombak. Sementara itu, versi pewayangan Jawa lebih menekankan pada kesaktian batin, misalnya ia pernah dikisahkan menjinakkan hewan-hewan buas di hutan Wanamarta dengan hanya meraba kepala mereka. 
Yudistira dalam pewayangan beberapa pusaka, antara lain Jamus Kalimasada, Tunggulnaga, dan Robyong Mustikawarih. Kalimasada berupa kitab, sedangkan Tunggulnaga berupa payung. Keduanya menjadi pusaka utama kerajaan Amarta. Sementara itu, Robyong Mustikawarih berwujud kalung yang terdapat di dalam kulit Yudistira. Pusaka ini adalah pemberian Gandamana, yaitu patih kerajaan Hastina pada zaman pemerintahan Pandu. Apabila kesabaran Yudistira sampai pada batasnya, ia pun meraba kalung tersebut dan seketika itu pula ia pun berubah menjadi raksasa besar berkulit putih bersih. 

Kelahiran 
Yudistira adalah putera tertua pasangan Pandu dan Kunti. Kitab Mahabharata bagian pertama atau Adiparwa mengisahkan tentang kutukan yang dialami Pandu setelah membunuh brahmana bernama Resi Kindama tanpa sengaja. Brahmana itu terkena panah Pandu ketika ia dan istrinya sedang bersanggama dalam wujud sepasang rusa. Menjelang ajalnya tiba, Resi Kindama sempat mengutuk Pandu bahwa kelak ia akan mati ketika mengawini istrinya. Dengan penuh penyesalan, Pandu meninggalkan tahta Hastinapura dan memulai hidup sebagai pertapa di hutan demi untuk mengurangi hawa nafsu. Kedua istrinya, yaitu Kunti dan Madri dengan setia mengikutinya. 
Pada suatu hari, Pandu mengutarakan niatnya ingin memiliki anak. Kunti yang menguasai mantra Adityahredaya segera mewujudkan keinginan suaminya itu. Mantra tersebut adalah ilmu pemanggil dewa untuk mendapatkan putera. Dengan menggunakan mantra itu, Kunti berhasil mendatangkan Dewa Dharma dan mendapatkan anugerah putera darinya tanpa melalui persetubuhan. Putera pertama itu diberi nama Yudistira. Dengan demikian, Yudistira menjadi putera sulung Pandu, sebagai hasil pemberian Dharma, yaitu dewa keadilan dan kebijaksanaan. Sifat Dharma itulah yang kemudian diwarisi oleh Yudistira sepanjang hidupnya. 

Versi pewayangan Jawa



Sosok Yudistira yang ditampilkan saat dalam pementasan wayang Jawa.
Kisah dalam pewayangan Jawa agak berbeda. Menurut versi ini, Puntadewa merupakan anak kandung Pandu yang lahir di istana Hastinapura. Kedatangan Bhatara Dharma hanya sekadar menolong kelahiran Puntadewa dan memberi restu untuknya. Berkat bantuan dewa tersebut, Puntadewa lahir melalui ubun-ubun Kunti. Dalam pewayangan Jawa, nama Puntadewa lebih sering dipakai, sedangkan nama Yudistira baru digunakan setelah ia dewasa dan menjadi raja. Versi ini melukiskan Puntadewa sebagai seorang manusia berdarah putih, yang merupakan kiasan bahwa ia adalah sosok berhati suci dan selalu menegakkan kebenaran.

Masa kecil dan pendidikan
Yudistira dan keempat adiknya, yaitu Bima (Bimasena), Arjuna, Nakula, dan Sadewa kembali ke Hastinapura setelah ayah mereka (Pandu) meninggal dunia. Adapun kelima putera Pandu itu terkenal dengan sebutan para Pandawa, yang semua lahir melalui mantra Adityahredaya. Kedatangan para Pandawa membuat sepupu mereka, yaitu para Korawa yang dipimpin Duryodana merasa cemas. Putera-putera Dretarastra itu takut kalau Pandawa sampai berkuasa di kerajaan Kuru. Dengan berbagai cara mereka berusaha menyingkirkan kelima Pandawa, terutama Bima yang dianggap paling kuat. Di lain pihak, Yudistira selalu berusaha untuk menyabarkan Bima supaya tidak membalas perbuatan para Korawa.
Pandawa dan Korawa kemudian mempelajari ilmu agama, hukum, dan tata negara kepada Resi Krepa. Dalam pendidikan tersebut, Yudistira tampil sebagai murid yang paling pandai. Krepa sangat mendukung apabila tahta Hastinapura diserahkan kepada Pandawa tertua itu. Setelah itu, Pandawa dan Korawa berguru ilmu perang kepada Resi Drona. Dalam pendidikan kedua ini, Arjuna tampil sebagai murid yang paling pandai, terutama dalam ilmu memanah. Sementara itu, Yudistira sendiri lebih terampil dalam menggunakan senjata tombak.
Konflik memperebutkan kerajaan
Selama Pandu hidup di hutan sampai akhirnya meninggal dunia, tahta Hastinapura untuk sementara dipegang oleh kakaknya, yaitu Dretarastra, ayah para Korawa. Ketika Yudistira menginjak usia dewasa, sudah tiba saatnya bagi Dretarastra untuk menyerahkan tahta kepada Yudhisthira, selaku putera sulung Pandu. Sementara itu putera sulung Dretarastra, yaitu Duryodana berusaha keras merebut tahta dan menyingkirkan Pandawa. Dengan bantuan pamannya dari pihak ibu, yaitu Sangkuni, Duryodana pura-pura menjamu kelima sepupunya itu dalam sebuah gedung di Waranawata, dimana gedung itu terbuat dari bahan yang mudah terbakar.
Ketika malam tiba, para Korawa membakar gedung tempat para Pandawa dan Kunti, ibu mereka, tidur. Namun, Yudistira sudah mempersiapkan diri karena rencana pembunuhan itu telah terdengar oleh pamannya, yaitu Widura adik Pandu. Akibatnya, kelima Pandawa dan Kunti berhasil lolos dari maut. Pandawa dan Kunti kemudian menjalani berbagai pengalaman sulit.

Pernikahan dengan Dropadi
Setelah lolos dari jebakan maut Korawa, para Pandawa dan Kunti pergi melintasi kota Ekachakra, lalu tinggal sementara di kerajaan Panchala. Arjuna berhasil memenangkan sayembara di kerajaan tersebut dan memperoleh seorang puteri cantik yang bernama Dropadi. Tanpa sengaja Kunti memerintahkan agar Dropadi dibagi lima. Akibatnya, Dropadi pun menjadi istri kelima Pandawa.
Dari perkawinan dengan Yudistira, Dropadi melahirkan Pratiwindya, dari Bima lahir Sutasoma, dari Arjuna lahir Srutasena, dari Nakula lahir Satanika, dan dari Sadewa lahir Srutakirti.
Versi Jawa menyebut Dropadi dengan nama "Drupadi". Menurut pewayangan Jawa, setelah memenangkan sayembara, Arjuna menyerahkan putri itu kepada Puntadewa selaku kakak tertua. Semula Puntadewa menolak, namun setelah didesak oleh ibu dan keempat adiknya, akhirnya ia pun bersedia menikahi Drupadi. Dari perkawinan itu lahir seorang putera bernama Pancawala. Jadi, menurut versi asli, tokoh Dropadi menikah dengan kelima Pandawa, sedangkan menurut versi Jawa, ia hanya menikah dengan Yudistira seorang.

Raja Indraprastha
Setelah menikahi Dropadi, para Pandawa kembali ke Hastinapura dan memperoleh sambutan luar biasa, kecuali dari pihak Duryodana. Persaingan antara Pandawa dan Korawa atas tahta Hastinapura kembali terjadi. Para sesepuh akhirnya sepakat untuk memberi Pandawa sebagian dari wilayah kerajaan tersebut.
Korawa yang licik mendapatkan istana Hastinapura, sedangkan Pandawa mendapatkan hutan Kandawaprastha sebagai tempat untuk membangun istana baru. Meskipun daerah tersebut sangat gersang dan angker, namun para Pandawa mau menerima wilayah tersebut. Selain wilayahnya yang seluas hampir setengah wilayah kerajaan Kuru, Kandawaprastha juga merupakan ibukota kerajaan Kuru yang dulu, sebelum Hastinapura. Para Pandawa dibantu sepupu mereka, yaitu Kresna dan Baladewa, dan berhasil membuka Kandawaprastha menjadi pemukiman baru.
Para Pandawa kemudian memperoleh bantuan dari Wiswakarma, yaitu ahli bangunan dari kahyangan, dan juga Anggaraparna dari bangsa Gandharwa. Maka terciptalah sebuah istana megah dan indah bernama Indraprastha, yang bermakna "kota Dewa Indra".

Pemerintahan Yudistira versi pewayangan Jawa

Yudistira (kiri) mencakupkan tangan sambil menghadap Narada (kanan) yang berdiri di depan Kresna saat penyelenggaraan Upacara Rajasuya di Indraprastha.

Pembangunan kerajaan Amarta
Dalam versi pewayangan Jawa, nama Indraprastha lebih terkenal dengan sebutan kerajaan Amarta. Menurut versi ini, hutan yang dibuka para Pandawa bukan bernama Kandawaprastha, melainkan bernama Wanamarta.
Versi Jawa mengisahkan, setelah sayembara Dropadi, para Pandawa tidak kembali ke Hastinapura melainkan menuju kerajaan Wirata, tempat kerabat mereka yang bernama Prabu Matsyapati berkuasa. Matsyapati yang bersimpati pada pengalaman Pandawa menyarankan agar mereka membuka kawasan hutan tak bertuan bernama Wanamarta menjadi sebuah kerajaan baru. Hutan Wanamarta dihuni oleh berbagai makhluk halus yang dipimpin oleh lima bersaudara, bernama Yudistira, Danduncana, Suparta, Sapujagad, dan Sapulebu. Pekerjaan Pandawa dalam membuka hutan tersebut mengalami banyak rintangan. Akhirnya setelah melalui suatu percakapan, para makhluk halus merelakan Wanamarta kepada para Pandawa.
Yudistira kemudian memindahkan istana Amarta dari alam jin ke alam nyata untuk dihuni para Pandawa. Setelah itu, ia dan keempat adiknya menghilang. Salah satu versi menyebut kelimanya masing-masing menyatu ke dalam diri lima Pandawa. Puntadewa kemudian menjadi Raja Amarta setelah didesak dan dipaksa oleh keempat adiknya. Untuk mengenang dan menghormati raja jin yang telah memberinya istana, Puntadewa pun memakai gelar Prabu Yudistira.

Anugerah Ketentraman
Setelah menjadi Raja Amarta, Puntadewa berusaha keras untuk memakmurkan negaranya. Konon terdengar berita bahwa barang siapa yang bisa menikahi puteri Kerajaan Slagahima yang bernama Dewi Kuntulwinanten, maka negeri tempat ia tinggal akan menjadi makmur dan sejahtera. Puntadewa sendiri telah memutuskan untuk memiliki seorang istri saja. Namun karena Dropadi mengizinkannya menikah lagi demi kemakmuran negara, maka ia pun berangkat menuju Kerajaan Slagahima. Di istana Slagahima telah berkumpul sekian banyak raja dan pangeran yang datang melamar Kuntulwinanten. Namun sang puteri hanya sudi menikah dengan seseorang yang berhati suci, dan ia menemukan kriteria itu dalam diri Puntadewa. Kemudian Kuntulwinanten tiba-tiba musnah dan menyatu ke dalam diri Puntadewa. Sebenarnya Kuntulwinanten bukan manusia asli, melainkan wujud penjelmaan anugerah dewata untuk seorang raja adil yang hanya memikirkan kesejahteraan negaranya. Sedangkan anak raja Slagahima yang asli bernama Tambakganggeng. Ia kemudian mengabdi kepada Puntadewa dan diangkat sebagai patih di kerajaan Amarta.

Upacara Rajasuya
Kitab Mahabharata bagian kedua atau Sabhaparwa mengisahkan niat Yudistira untuk menyelenggarakan upacara Rajasuya demi menyebarkan dharma dan menyingkirkan raja-raja angkara murka. Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa memimpin tentara masing-masing ke empat penjuru Bharatawarsha (India Kuno) untuk mengumpulkan upeti dalam penyelenggaraan upacara agung tersebut.
Pada saat yang sama, seorang raja angkara murka juga mengadakan upacara mengorbankan seratus orang raja. Raja tersebut bernama Jarasanda dari kerajaan Magadha. Yudistira mengirim Bima dan Arjuna dengan didampingi Kresna sebagai penasihat untuk menumpas Jarasanda. Akhirnya, melalui sebuah pertandingan seru, Bima berhasil membunuh Jarasanda.
Setelah semua persyaratan terpenuhi, Yudistira melaksanakan upacara Rajasuya yang dihadiri sekian banyak kaum raja dan pendeta. Dalam kesempatan itu, Yudistira ditetapkan sebagai Maharajadhiraja. Kemudian muncul seorang sekutu Jarasanda bernama Sisupala yang menghina Kresna di depan umum. Setelah melewati penghinaan ke-100, Krishna akhirnya memenggal kepala Sisupala di depan umum.

Kehilangan kerajaan


Lukisan dari Punjab, dibuat sekitar abad ke-18, menggambarkan suasana aula permainan dadu antara Pandawa dan Korawa. Tampak dalam gambar, Dropadi yang berusaha ditelanjangi oleh Dursasana. Di sebelah kiri bawah, tampak kelima Pandawa sedang diam menerima kekalahannya.

Ketika menjadi tamu dalam acara Rajasuya, Duryodana sangat kagum sekaligus iri menyaksikan keindahan istana Indraprastha. Timbul niatnya untuk merebut kerajaan itu, apalagi setelah ia tersinggung oleh ucapan Dropadi dalam sebuah pertemuan. Sangkuni membantu niat Duryodhana dengan memanfaatkan kegemaran Yudistira terhadap permainan dadu. Yudistira memang seorang ahli agama, namun di sisi lain ia sangat menyukai permainan tersebut. Undangan Duryodana diterimanya dengan baik. Permainan dadu antara Pandawa melawan Korawa diadakan di istana Hastinapura. Mula-mula Yudistira hanya bertaruh kecil-kecilan. Namun semuanya jatuh ke tangan Duryodana berkat kepandaian Sakuni dalam melempar dadu.
Hasutan Sangkuni membuat Yudistira nekad mempertaruhkan semua hartanya, bahkan Indraprastha. Akhirnya, negeri yang dibangun dengan susah payah itu pun jatuh ke tangan lawan. Yudistira yang sudah gelap mata juga mempertaruhkan keempat adiknya secara berurutan. Keempatnya pun jatuh pula ke tangan Duryodana satu per satu, bahkan akhirnya Yudistira sendiri. Duryodana tetap memaksa Yudistira yang sudah kehilangan kemerdekaannya untuk melanjutkan permainan, dengan mempertaruhkan Dropadi. Akibatnya, Dropadi pun ikut bernasib sama.
Ratapan Dropadi saat dipermalukan di depan umum terdengar oleh Gandari, ibu para Korawa. Ia memerintahkan agar Duryodana menghentikan permainan dan mengembalikan semuanya kepada Pandawa. Dengan berat hati, Duryodhana terpaksa mematuhi perintah ibunya itu. Duryodana yang kecewa kembali menantang Yudistira beberapa waktu kemudian. Kali ini peraturannya diganti. Barang siapa yang kalah harus menyerahkan negara beserta isinya, dan menjalani hidup di hutan selama 12 tahun serta menyamar selama setahun di dalam sebuah kerajaan. Apabila penyamaran itu terbongkar, maka wajib mengulangi lagi pembuangan selama 12 tahun dan menyamar setahun, begitulah seterusnya. Akhirnya berkat kelicikan Sakuni, pihak Pandawa pun mengalami kekalahan untuk yang kedua kalinya. Sejak saat itu lima Pandawa dan Dropadi menjalani masa pembuangan mereka di hutan.

Kehidupan dalam Pembuangan
Kehidupan para Pandawa dan Dropadi dalam menjalani masa pembuangan selama 12 tahun di hutan dikisahkan pada jilid ketiga kitab Mahabharata yang dikenal dengan sebutan Wanaparwa.
Yudistira yang merasa paling bertanggung jawab atas apa yang menimpa keluarga dan negaranya berusaha untuk tetap tabah dalam menjalani hukuman. Ia sering berselisih paham dengan Bima yang ingin kembali ke Hastinapura untuk menumpas para Korawa. Meskipun demikian, Bima tetap tunduk dan patuh terhadap perintah Yudistira supaya menjalani hukuman sesuai perjanjian.
Suatu ketika para Korawa datang ke dalam hutan untuk berpesta demi menyiksa perasaan para Pandawa. Namun, mereka justru berselisih dengan kaum Gandharwa yang dipimpin Citrasena. Dalam peristiwa itu Duryodana tertangkap oleh Citrasena. Akan tetapi, Yudistira justru mengirim Bima dan Arjuna untuk menolong Duryodana. Ia mengancam akan berangkat sendiri apabila kedua adiknya itu menolak perintah. Akhirnya kedua Pandawa itu berhasil membebaskan Duryodana. Niat Duryodana datang ke hutan untuk menyiksa perasaan para Pandawa justru berakhir dengan rasa malu luar biasa yang ia rasakan.
Peristiwa lain yang terjadi adalah penculikan Dropadi oleh Jayadrata, adik ipar Duryodana. Bima dan Arjuna berhasil menangkap Jayadrata dan hampir saja membunuhnya. Yudistira muncul dan memaafkan raja kerajaan Sindu tersebut.

Peristiwa Telaga Beracun & Dharma Prashna
Pada suatu hari menjelang berakhirnya masa pembuangan, Yudistira dan keempat adiknya membantu seorang brahmana yang kehilangan peralatan upacaranya karena tersangkut pada tanduk seekor rusa liar. Dalam pengejaran terhadap rusa itu, kelima Pandawa merasa haus. Yudistira pun menyuruh Sadewa mencari air minum. Karena lama tidak kembali, Nakula disuruh menyusul, kemudian Arjuna, lalu akhirnya Bima menyusul pula. Yudistira semakin cemas karena keempat adiknya tidak ada yang kembali.
Yudistira kemudian berangkat menyusul Pandawa dan menjumpai mereka telah tewas di tepi sebuah telaga. Ada seekor bangau (Baka) yang mengaku sebagai pemilik telaga itu. Ia menceritakan bahwa keempat Pandawa tewas keracunan air telaganya karena mereka menolak menjawab pertanyaan darinya. Sambil menahan haus, Yudistira mempersilakan Sang bangau untuk bertanya. Sang bangau lalu berubah wujud menjadi Yaksa. Satu per satu pertanyaan demi pertanyaan berhasil ia jawab. Inilah sebagian pertanyaan yang diajukan Yaksa pada Yudistira:
Yaksa: Apa yang lebih berat daripada Bumi, lebih luhur daripada langit, lebih cepat daripada angin dan lebih berjumlah banyak daripada gundukan jerami?
Yudhishthira: Sang Ibu lebih berat daripada Bumi, Sang Ayah lebih luhur daripada langit, Pikiran lebih cepat daripada angin dan kekhawatiran kita lebih berjumlah banyak daripada gundukan jerami.
Yaksa: Siapakah kawan dari seorang musafir? Siapakah kawan dari seorang pesakitan dan seorang sekarat?
Yudhishthira: Kawan dari seorang musafir adalah pendampingnya. Tabib adalah kawan seorang yang sakit dan kawan seorang sekarat adalah amal.
Yaksa: Hal apakah yang jika ditinggalkan membuat seseorang dicintai, bahagia dan kaya?
Yudhishthira: Keangkuhan, bila ditinggalkan membuat seseorang dicintai. Hasrat, bila ditinggalkan membuat seseorang kaya dan keserakahan, bila ditinggalkan membuat seseorang bahagia.
Yaksa: Musuh apakah yang tidak terlihat? Penyakit apa yang tidak bisa disembuhkan? Manusia macam apa yang mulia dan hina?
Yudhishthira: Kemarahan adalah musuh yang tidak terlihat. Ketidakpuasan adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Manusia mulia adalah yang mengharapkan kebaikan untuk semua makhluk dan Manusia hina adalah yang tidak mengenal pengampunan.
Yaksa: Siapakah yang benar-benar berbahagia? Apakah keajaiban terbesar? Apa jalannya? Dan apa beritanya?
Yudhishthira: Seorang yang tidak punya hutang adalah benar-benar berbahagia. Hari demi hari tak terhitung orang meninggal. Namun yang masih hidup berharap untuk hidup selamanya. Ya Tuhan, keajaiban apa yang lebih besar? Perbedaan pendapat membawa pada kesimpulan yang tidak pasti, Antara Śruti saling berbeda satu sama lain, bahkan tidak ada seorang Resi yang pemikirannya bisa diterima oleh semua. Kebenaran Dharma dan tugas, tersembunyi dalam gua-gua hati kita. Karena itu kesendirian adalah jalan dimana terdapat yang besar dan kecil. Dunia yang dipenuhi kebodohan ini layaknya sebuah wajan. Matahari adalah apinya, hari dan malam adalah bahan bakarnya. Bulan-bulan dan musim-musim merupakan sendok kayunya. Waktu adalah Koki yang memasak semua makhluk dalam wajan itu (dengan berbagai bantuan seperti itu). Inilah beritanya.
Akhirnya, Yaksa pun mengaku kalah, namun ia hanya sanggup menghidupkan satu orang saja. Dalam hal ini, Yudistira memilih Nakula untuk dihidupkan kembali. Yaksa heran karena Nakula adalah adik tiri, bukan adik kandung. Yudistira menjawab bahwa dirinya harus berlaku adil. Ayahnya, yaitu Pandu memiliki dua orang istri. Karena Yudistira lahir dari Kunti, maka yang dipilihnya untuk hidup kembali harus putera yang lahir dari Madri, yaitu Nakula.
Yaksa terkesan pada keadilan Yudistira. Ia pun kembali ke wujud aslinya, yaitu Dewa Dharma. Kedatangannya dengan menyamar sebagai rusa liar dan yaksa adalah untuk memberikan ujian kepada para Pandawa. Berkat keadilan dan ketulusan Yudistira, maka tidak hanya Nakula yang dihidupkan kembali, melainkan juga Bima, Arjuna, dan Sadewa.
Yudistira dalam masa penyamaran
Setelah 12 tahun menjalani pembuangan di hutan, kelima Pandawa dan Dropadi kemudian memasuki masa penyamaran selama setahun. Sebagai tempat persembunyian, mereka memilih Kerajaan Matsya yang dipimpin oleh Wirata. Kisah ini terdapat dalam kitab Mahabharata jilid keempat atau Wirataparwa.
Yudistira menyamar dengan nama Kanka di mana ia diterima sebagai kusir kereta Raja Wirata. Bima menjadi Balawa sebagai tukang masak, Arjuna menjadi Wrihanala sebagai banci guru tari, Nakula menjadi Damagranti sebagai tukang kuda, Sadewa menjadi Tantripala sebagai penggembala sapi, sedangkan Dropadi menjadi Sailandri sebagai dayang istana.
Pada akhir tahun penyamaran Pandawa, terjadi peristiwa serangan kerajaan Kuru terhadap kekuasaan Wirata. Seluruh kekuatan kerajaan Matsya dikerahkan menghadapi tentara kerajaan Trigartha, sekutu Duryodhana. Akibatnya, istana Matsya menjadi kosong dan dalam keadaan terancam oleh serangan pasukan Hastinapura. Utara putera Wirata yang ditugasi menjaga istana, berangkat ditemani Wrihanala (Arjuna) sebagai kusir. Di medan perang Wrihanala membuka samaran dan tampil menghadapi pasukan Duryodana sebagai Arjuna. Seorang diri ia berhasil memukul mundur pasukan dari Hastinapura tersebut. Sementara itu, pasukan Wirata juga mendapat kemenangan atas pasukan Trigartha. Wirata dengan bangga memuji-muji kehebatan Utara yang berhasil mengalahkan para Korawa seorang diri. Kanka alias Yudistira menjelaskan bahwa kunci kemenangan Utara adalah Wrihanala. Hal itu membuat Wirata tersinggung dan memukul kepala Kanka sampai berdarah.
Dalam versi pewayangan Jawa, Wirata adalah nama kerajaan, bukan nama orang. Sedangkan rajanya bernama Matsyapati. Dalam kerajaan tersebut, Yudistira atau Puntadewa menyamar sebagai pengelola pasar ibu kota bernama Dwijakangka.
Saat batas waktu penyamaran telah genap setahun, kelima Pandawa dan Dropadi pun membuka penyamaran. Mengetahui hal itu, Wirata merasa sangat menyesal telah memperlakukan mereka dengan buruk. Ia pun berjanji akan menjadi sekutu Pandawa dalam usaha mendapatkan kembali takhta Indraprastha.
Yudistira saat Bharatayuddha
Ketika para Pandawa pulang ke Hastinapura demi menuntut hak yang seharusnya mereka terima, Duryodana bersikap sinis terhadap mereka. Ia tidak mau menyerahkan Hastinapura kepada Yudistira. Berbagai usaha damai dilancarkan pihak Pandawa namun selalu ditolak oleh Duryodana. Bahkan, Duryodana tetap menolak ketika Yudistira hanya meminta lima buah desa saja, bukan seluruh Indraprastha. Pada puncaknya, Duryodana berusaha membunuh duta Pandawa, yaitu Kresna, namun gagal.
Perang di Kurukshetra antara Pandawa dan Korawa tidak dapat lagi dihindari. Para pujangga Jawa menyebut peristiwa itu dengan nama Bharatayuddha. Sementara itu dalam Mahabharata kisah perang besar tersebut ditemukan pada jilid keenam sampai kesepuluh.
Awal pertempuran
Pada bagian Bhismaparwa dikisahkan bahwa sebelum perang hari pertama dimulai, Yudistira turun dari keretanya berjalan kaki ke arah pasukan Korawa yang berbaris di hadapannya. Duryodana mengejeknya sebagai pengecut yang langsung menyerah begitu melihat kekuatan Korawa dan sekutu mereka. Namun, kedatangan Yudistira bukan untuk menyerah, melainkan meminta doa restu kepada empat sesepuh yang berperang di pihak lawan. Mereka adalah Bisma, Krepa, Drona, dan Salya. Keempatnya mendoakan semoga pihak Pandawa menang. Hal itu tentu saja membuat Duryodana sakit hati.
Yudistira kembali ke pasukannya. Ia mempersilakan siapa saja yang ingin pindah pasukan sebelum perang benar-benar dimulai. Ternyata yang pindah justru adik tiri Duryodhana yang lahir dari selir, bernama Yuyutsu, yang bergerak meninggalkan Korawa untuk bergabung bersama Pandawa.
Pertempuran melawan Drona
Bisma memimpin pasukan Korawa selama sepuluh hari. Setelah ia tumbang, kedudukannya digantikan oleh Drona, yang mendapat amanat dari Duryodana supaya menangkap Yudistira hidup-hidup. Drona senang atas tugas tersebut, padahal niat Duryodana adalah menjadikan Yudistira sebagai sandera untuk memaksa para pendukungnya menyerah. Berbagai cara dilancarkan Drona untuk menangkap Yudistira. Tidak terhitung banyaknya sekutu Pandawa yang tewas di tangan Drona karena melindungi Yudistira, misalnya Drupada dan Wirata.
Akhirnya pada hari ke-15, penasihat Pandawa, yaitu Kresna menemukan cara untuk mengalahkan Drona, yaitu dengan mengumumkan berita kematian seekor gajah bernama Aswatama. Aswatama juga merupakan nama putera tunggal Drona. Kemiripan nama tersebut dimanfaatkan oleh Kresna untuk menipu Drona. Atas perintah Kresna, Bima segera membunuh gajah itu dan berteriak mengumumkan kematiannya. Drona cemas mendengar berita kematian Aswatama. Ia segera mendatangi Yudistira yang dianggapnya sebagai manusia paling jujur untuk bertanya tentang kebenaran berita tersebut. Yudistira terpaksa bersikap tidak jujur. Ia membenarkan berita kematian Aswatama tanpa berusaha menjelaskan bahwa yang mati adalah gajah, bukan putera Drona.
Jawaban Yudistira itu membuat Drona jatuh lemas. Ia membuang semua senjatanya dan duduk bermeditasi. Tiba-tiba saja Drestadyumna putera Drupada mendatanginya dan kemudian memenggal kepalanya dari belakang. Drona pun tewas seketika. Dalam peristiwa ini yang paling merasa bersalah adalah Yudistira.

Pertempuran melawan Salya
Salya adalah kakak ipar Pandu yang terpaksa membantu Korawa karena tipu daya mereka. Pada hari ke-18, ia diangkat sebagai panglima oleh Duryodana. Akhirnya ia pun tewas terkena tombak Yudistira.
Naskah Bharatayuddha berbahasa Jawa Kuno mengisahkan bahwa Salya memakai senjata bernama Rudrarohastra, sedangkan Yudistira memakai senjata bernama Kalimahosaddha. Pusaka Yudistira yang berupa kitab itu dilemparkannya dan tiba-tiba berubah menjadi tombak menembus dada Salya.
Sementara itu menurut versi pewayangan Jawa, Salya mengerahkan ilmu Candabirawa berupa raksasa kerdil mengerikan, yang jika dilukai jumlahnya justru bertambah banyak. Puntadewa maju mengheningkan cipta. Candabirawa lumpuh seketika karena Puntadewa telah dirasuki arwah Resi Bagaspati, yaitu pemilik asli ilmu tersebut. Selanjutnya, Puntadewa melepaskan Jamus Kalimasada yang melesat menghantam dada Salya. Salya pun tewas seketika.
Tantangan bagi Duryodana
Setelah kehabisan pasukan, Duryodhana bersembunyi di dasar telaga. Kelima Pandawa didampingi Kresna berhasil menemukan tempat itu. Duryodana pun naik ke darat siap menghadapi kelima Pandawa sekaligus. Yudistira menolak tantangan Duryodhana karena Pandawa pantang berbuat pengecut dengan cara main keroyok, sebagaimana para Korawa ketika membunuh Abimanyu pada hari ke-13. Sebaliknya, Duryodana dipersilakan bertarung satu lawan satu melawan salah seorang di antara lima Pandawa. Apabila ia kalah, maka kerajaan harus dikembalikan kepada Pandawa. Sebaliknya apabila ia menang, Yudistira bersedia kembali hidup di hutan.
Bima terkejut mendengar keputusan Yudistira yang seolah-olah memberi kesempatan Duryodana untuk berkuasa lagi, padahal kemenangan Pandawa tinggal selangkah saja. Dalam hal ini Yudistira justru menyalahkan Bima yang dianggap kurang percaya diri. Duryodana meskipun bersifat angkara murka namun ia juga seorang pemberani. Ia memilih Bima sebagai lawan perang tanding, yang paling gagah di antara kelima Pandawa. Setelah pertarungan sengit terjadi cukup lama, akhirnya menjelang senja Duryodana berhasil dikalahkan dengan dipukul titik kelemahannya, yaitu paha. Ini sekaligus menuntaskan sumpah Bima yang akan membunuh Duryodana karena penghinaannya terhadap Dropadi. Balarama marah dan bertekad untuk membunuh Bima karena paha merupakan sasaran yang terlarang dalam duel gada, namun diperingatkan oleh Kresna bahwa Bima hanya berusaha menjalankan sumpahnya. Duryodana pun tewas secara perlahan setelah saling bersilat lidah dengan Kresna.
Maharaja dunia
Setelah perang berakhir, Yudistira melaksanakan upacara Tarpana untuk memuliakan mereka yang telah tewas. Ia kemudian diangkat sebagai raja Hastinapura sekaligus raja Indraprastha. Yudistira dengan sabar menerima Dretarastra sebagai raja sepuh di kota Hastinapura. Ia melarang adik-adiknya bersikap kasar dan menyinggung perasaan ayah para Korawa tersebut, namun Bima selalu saja menyinggung Dretarastra akan perbuatan anak-anaknya sehingga sang raja sepuh pun lengser dari tahta Hastinapura.
Yudistira kemudian menyelenggarakan Aswamedha Yadnya, yaitu suatu upacara pengorbanan untuk menegakkan kembali aturan dharma di seluruh dunia. Pada upacara ini, seekor kuda dilepas untuk mengembara selama setahun. Arjuna ditugasi memimpin pasukan untuk mengikuti dan mengawal kuda tersebut. Para raja yang wilayah negaranya dilalui oleh kuda tersebut harus memilih untuk mengikuti aturan Yudistira atau diperangi. Arjuna mengirim pasukan ke daerah utara, Bima ke timur, Nakula ke barat & Sahadewa ke selatan.
Akhirnya setelah beberapa pertempuran, semua kerajaan memilih membayar upeti. Sekali lagi Yudistira pun dinobatkan sebagai Maharaja Dunia setelah Upacara Rajasuya dahulu.

Lengser lalu naik ke sorga

Lukisan Yudistira yang sedang mendaki gunung Himalaya sebagai perjalanan terakhirnya.
Setelah permulaan zaman Kaliyuga dan wafatnya Kresna, Yudistira dan keempat adiknya mengundurkan diri dari urusan duniawi. Mereka meninggalkan tahta kerajaan, harta, dan sifat keterikatan untuk melakukan perjalanan terakhir, mengelilingi Bharatawarsha lalu menuju puncak Himalaya. Di kaki gunung Himalaya, Yudistira menemukan anjing dan kemudian hewan tersebut menjdi pendamping perjalanan Pandawa yang setia. Saat mendaki puncak, satu per satu mulai dari Dropadi, Sadewa, Nakula, Arjuna, dan Bima meninggal dunia. Masing-masing terseret oleh kesalahan dan dosa yang pernah mereka perbuat. Hanya Yudistira dan anjingnya yang berhasil mencapai puncak gunung, karena kesucian hatinya.
Dewa Indra, pemimpin masyarakat kahyangan, datang menjemput Yudistira untuk diajak naik ke swarga dengan kereta kencananya. Namun, Indra menolak anjing yang dibawa Yudistira dengan alasan bahwa hewan tersebut tidak suci dan tidak layak untuk masuk swarga. Yudistira menolak masuk swargaloka apabila harus berpisah dengan anjingnya. Indra merasa heran karena Yudistira tega meninggalkan saudara-saudaranya dan Dropadi tanpa mengadakan upacara pembakaran jenazah bagi mereka, namun lebih memilih untuk tidak mau meninggalkan seekor anjing. Yudistira menjawab bahwa bukan dirinya yang meninggalkan mereka, tapi merekalah yang meninggalkan dirinya.
Kesetiaan Yudistira telah teruji. Anjingnya pun kembali ke wujud asli yaitu Dewa Dharma, Ayahnya. Bersama-sama mereka naik ke sorga menggunakan kereta Indra. Namun ternyata keempat Pandawa tidak ditemukan di sana. Yang ada justru Duryodana dan adik-adiknya yang selama hidup mengumbar angkara murka. Indra menjelaskan bahwa keempat Pandawa dan para pahlawan lainnya sedang menjalani penyiksaan di neraka. Yudistira menyatakan siap masuk neraka menemani mereka. Namun, ketika terpampang pemandangan neraka yang disertai suara menyayat hati dan dihiasi darah kental membuatnya ngeri. Saat tergoda untuk kabur dari neraka, Yudistira berhasil menguasai diri. Terdengar suara saudara-saudaranya memanggil-manggil. Yudistira memutuskan untuk tinggal di neraka. Ia merasa lebih baik hidup tersiksa bersama sudara-saudaranya yang baik hati daripada bergembira di sorga namun ditemani oleh kerabat yang jahat. Tiba-tiba pemandangan berubah menjadi indah. Dewa Indra muncul dan berkata bahwa sekali lagi Yudistira lulus ujian, karena waktunya yang sebentar di Neraka adalah sebagai penebus dosa ketidakjujuran Yudistira terhadap Drona soal kematian Aswatama. Ia menyatakan bahwa sejak saat itu, Pandawa Lima dan para pahlawan lainnya dinyatakan sebagai penghuni Surga, sementara para korawa akan menjalani siksaan yang kekal di neraka.
Menurut versi pewayangan Jawa, kematian para Pandawa terjadi bersamaan dengan Kresna ketika mereka bermeditasi di dalam Candi Sekar. Namun, versi ini kurang begitu populer karena banyak dalang yang lebih suka mementaskan versi Mahabharata yang penuh dramatisasi sebagaimana dikisahkan di atas.

Yudistira
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas




Blog Archives

kolom komentar

Dapatkan comment widget ini di sini
Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More